Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam hormat dan ta’zim untuk Dang Sultan.
Dang, izinkan aku sebagai salah seorang warga Bengkulu menyampaikan sepatah dua kata. Bukan untuk menyalahkan, bukan untuk menggurui, tetapi sebagai suara hati dari kampung halaman yang Dang cintai, tanah yang sama-sama kita banggakan, yang sedang menghadapi persoalan besar di Bentang Alam Seblat.
Belakangan ini, nama PT. API yang berada dalam lingkaran usaha ASA Investment, sering disebut dalam diskusi soal habitat gajah. Ada kegaduhan, ada kekhawatiran, dan ada tanda tanya besar tentang masa depan 11 ekor gajah liar kita yang tersisa di Seblat.
Di tengah riuhnya pembahasan itu, kami belum mendengar suara Dang.
Padahal nama Dang tercantum sebagai Komisaris Utama di ASA Investment. Donga Agusrin ditengok-tengok jugo ado namonyo di PT API sebagai Komisari Utama.
Padahal rakyat tahu Dang bukan jemo sembarangan, ketua lembaga tinggi negara, tokoh nasional, putra Bengkulu yang harum namanya, yang baru-baru ini memperkenalkan konsep “Demokrasi Hijau” di COP30 Brasil. Banyak dari kito ini bangga, sungguh bangga nian Dang.
Namun di kampung halaman kito ini Dang, gajah-gajah kito sedang terjepit di wilayah konsesi. Sudah menjadi isu lingkungan secara nasional.
Kami tidak tahu berapa pajak dan kontribusi PT. API yang mengalir ke negara.
Kami tidak tahu persis seberapa besar kerusakan atau pemulihan yang sudah dilakukan.
Yang kami tahu: hari ini gajah kita semakin sedikit bahkan menuju kepunahan, hutan kita semakin sempit, konflik ekologi sudah dan sedang terjadi dan konflik sosial semakin dekat.
Dang…
Sebelum persoalan ini menjadi masalah sosial dan kemanusiaan yang lebih besar, kami memohon, dari hati yang paling dalam, sudilah kiranya Dang turun tangan secara langsung. Suara Dang diperlukan. Sikap Dang ditunggu. Arahan Dang dapat menjadi penentu masa depan Seblat.
Beberapa waktu lalu Presiden Prabowo Subianto membuat keputusan bersejarah dengan menyerahkan 90.000 hektare konsesi di Takengon, Aceh, untuk konservasi ke WWF. Dunia mengapresiasi langkah itu.
Jika Dang Sultan melakukan hal serupa, menyerahkan sebagian wilayah konsesi PT. API untuk kawasan lindung, koridor gajah, atau program rehabilitasi habitat, maka sejarah akan menuliskan nama Dang dengan tinta emas. Tidak hanya sebagai politisi, tetapi sebagai penjaga bumi, pewaris nilai-nilai leluhur Bengkulu yang bijaksana terhadap alam.
Kami percaya Dang mampu.
Kami yakin Dang mengerti bahwa hutan bukan sekadar aset, tetapi warisan.
Gajah bukan sekadar satwa, tetapi penjaga keseimbangan.
Dan Seblat bukan sekadar bentang alam, tetapi identitas orang Bengkulu.
Sekali ini kami nak berasan, Dang…
Dengarlah suara jemo kecil ini Dang.
Jagalah 11 ekor gajah yang tersisa yang kito punyo.
Bantulah menjaga hutan yang selama ini menjadi nafas dan masa depan anak cucu kito..
Dengan segala hormat,
Dengan segala kerendahan hati,
Kami hanya ingin menyampaikan satu hal:
Bengkulu butuh Dang. Bentang Alam Seblat butuh Dang. Gajah-gajah itu juga butuh Dang.
Semoga pintu hati Dang terbuka,
Semoga langkah besar bisa dimulai dari tangan Dang sendiri.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam Hormat untuk Dang Sekeluarga
Surat ini ditulis seorang warga Kota Bengkulu, yang identitasnya kami rahasiakan. Hingga berita ini dipublish, kami terus mengupayakan mengkonfirmasi dan memverifikasi ke Ketua DPD RI, Sultan Bahtiar Najamudin, Agusrin Najamudin selaku mantan Gubernur Bengkulu dan disebut terkait PT API, ASA Investment, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan dan pihak terkait. (*)