Bung Fitro seperti cahaya yang menerangi peneliti luar Belitung seperti saya.
Oleh: Prof.Dr. Erwiza Erman, M.A., Ph.D.
Namanya Bung Fitrorozi—orang-orang mengenalnya sebagai Presiden Republik Klekak. Jabatan itu unik, menyentuh dan berpihak kepada rakyat kecil.
Dua puluh lima tahun lalu saya pertama kali bertemu dengan Bung Fitro, ketika saya datang ke Belitung sebagai tamu PT. Timah. Saya mengulang kembali riset setelah alpa sejak tahun 1990.
Sejak pertemuan itu dengan Bung Fitro, ayahnya, sejak itu saya merasa ada kenyamanan berada di tengah keluarga Bung Fitro. Kami bertiga menjelajah Belitung bersama ayah Bung Fitro, Pak Sjahrul. Sebab kalau tidak ditemani Bung Fitro dan Yogi yang selalu membawa kendaraan, pasti saya ditemani dengan orang-orang kepercayaannya, seperti Pak Yudha (kakak Bung Fitro) Pak Marwan yang ahli botani.

Ketika saya berkolaborasi riset dengan Prof. Yumi Kitamura dari Kyoto University selama tiga tahun berturut-turut, kami diantar Bung Fitro melihat Belitung dengan cara yang lebih peka.
Ia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari mata kami. Kami diajak ke Belitung Timur, menemui Pak Sjarie di sebuah desa di Belitung Timur. Rumahnya sederhana, dikelilingi kebun dan suara angin yang menyentuh dedaunan.
Pak Sjarie adalah dukun kampung. Wajahnya tenang, tutur katanya perlahan, tetapi penuh lapisan makna. Ia berbicara tentang peredaran bulan, tentang hitungan hari baik dan hari buruk, tentang tanda-tanda alam yang menjadi pedoman kapan melaut, kapan turun ke ladang, kapan menanam, bahkan kapan sebaiknya menahan diri.

Bung Fitro telah mendidik dan mendorong Pak Sjarie ini untuk mencatat di buku kecil tentang pengetahuan lokal tentang apa saja, termasuk untuk pergi melaut. Kami selalu makan di rumah Pak Sjarie, makan ikan goreng kecil yang ditangkap di sungai di belakang rumah, dengan sambal serai dan sayur yang dipetik dari halaman. Sederhana, tetapi saya dan Yumi menikmati sekali suasana sederhana dan makan sederhana, organik dan sehat. Enaaak.
Dengan memperkenalkan Pak Sjarie ini oleh Bung Fitro tidak hanya pada kami, tetapi juga pada peneliti lain saya kira, akhirnya Pak Sjarie adalah bertindak sebagai pemandu wisata kampung, membawa kami menelusuri Teluk Balok.
Saya membayangkan di Teluk Balok ini dulu ada banyak bajak laut. Berkat asuhan Bung Fitro, Pak Sjarie, menjadi sibuk dan bahkan dapat mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Inggris, seperti money politics dan sebagainya. Berkat Bung Fitro.
Bung Fitro seperti cahaya yang menerangi peneliti luar Belitung seperti saya. Tetapi cahaya itu kini sudah redup dan bahkan sudah hilang ketika saya mendapat kabar pagi ini dari teman-teman di Bangka dan Belitung dan bahkan dari teman saya Prof Yumi yang duluan mendapat info.
Berita yang menyedihkan, pada hal minggu lalu saya menelpon Bung Fitro, berdiskusi lagi. Dan kali ini ia tidak mengusulkan tema diplomasi budaya seperti diusulkannya tahun lalu, tetapi ia mengusulkan agar saya meneliti sejarah dan budaya pulau-pulau kecil.
“Itu belum banyak disentuh,” katanya. Kini kita kehilangan ”sebuah pelita” yang memberi penerangan kepada orang-orang luar untuk memahami Belitung.
Selamat jalan Bung Fitro, jasamu akan tetap terpatri di hati kami, dari luar Belitung, luar Indonesia. Alfatihah kami lantunkan, semoga Bung Fitro menuju jalan lurus menghadap SANG PENCIPTA pada hari Jumat. Saya bersaksi beliau adalah orang baik, pemurah dan selalu mempererat persaudaraan.(*)
Depok, 13 Februari 2026.