Banner Full Width

Obituari Dokter Adi Sucipto: Harus Ada yang Bersuara

Dwi-fungsi memang tidak selamanya mudah. Merepotkan, menyita waktu. Padahal pekerjaan sebagai dokter spesialis bedah saja, waktu sudah terasa sangat sempit. Bolak-balik dua rumah sakit. Pasien mengantri, dari urusan konsultasi, hingga jadwal mengoperasi pasien. Belum lagi kesibukan sebagai ketua IDI Babel. Tapi, hal itu sangat disadari dr Adi Sucipto, Sp.B, sejak awal ketika memutuskan harus terjun kedunia politik praktis, pada 2024 silam. Keputusan ini cukup mengejutkan, namun tekadnya sudah bulat. Adi ingin totalitas mengabdi, menyerahkan seluruh tenaga, pikiran dan waktu untuk memperjuangkan hak kesehatan masyarakat terpenuhi secara adil dan layak.

Sejak dilantik sebagai Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung periode 2024-2029, pada Selasa, 24 September 2024, Adi melakoni jabatannya yang baru: dokter spesialis bedah dan sekaligus Anggota Komisi IV DPRD Babel.

Pangkalpinang yang tenang tapi Adi selalu dikerumuni kerepotan begitu dia melek bangun tidur. Para pasien sudah menanti di RSBT Pangkalpinang dan RS Siloam. Jadwal ke DPRD juga menanti, sesekali harus terbang dinas luar. Kemudian harus memberi instruksi bagaimana cara menangani pasien ke paramedis staf. Sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Babel, juga harus menggerakkan agar roda organisasi profesi ini agar tetap berjalan. Di luar itu, baru Adi bisa mengisi waktunya untuk keluarga, bertemu sahabat dan berolahraga.

Adi tak lagi ingat, putra kelahiran Riau tak lagi ingat sudah berapa banyak masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dia bedah. Kota Pangkalpinang adalah pilihan Adi sejak awal menapaki karir professional lebih tiga puluh tahun silam.

“Entah sudah berapa banyak yang saya bedah. Ada yang satu keluarga, mulai dari kakek, nenek, emaknya, anaknya sampai cucunya,” kata Adi, tersenyum, satu waktu.

Ia dikenal ramah, mudah bergaul dan selalu bersikap empati kepada siapapun yang ia temui. Maka tak heran pasien dan keluarga pasien merasa dekat. Pergaulaannya luas. Nyaris semua kalangan di Babel banyak yang mengenalnya. Pasiennya yang anak-anak pun merasa dekat. Adi berpraktek di RSBT Pangkalpinang dan RS Silom.

Pasien atau keluarga pasien yang awalnya cemas harus terbaring di meja operasi, begitu bertemu dokter Adi, merasa ringan. Adi selalu menghibur dan memberikan motivasi agar pasien optimis bahwa bakal sembuh. Rasa optimis itu lah, menurut Adi, membantu pasien segera pulih. Di luar itu, Adi tak pelit membagikan nomor handphone nya agar keluarga pasien bisa berkonsultasi.

Dengan rekan sekerjanya di rumah sakit, Adi disegani, sekaligus menjadi teman diskusi yang baik. Ia tak sungkan bercengkerama datau sekedar mengobrol dengan staf paramedis di sela kesibukan. Sehingga tak berjarak. Meski ia adalah dokter spesialis bedah senior.

Tengoklah, suatu ketika, Adi duduk lesehan di lantai tanpa alas sembari memegang mangkok berisi mie instan dan telor yang siap disantap. Sejumlah paramedis menggodanya sembari bercanda. “Lagi akhir bulan ya dok (dokter),” disambut tawa staf lainya, Adi hanya tersenyum saja.

Adi juga dikenal sebagai pemain golf profesional. Ia kerap mengikuti sejumlah turnamen golf. Pada Sabtu, 19 Agustus 2023, bersama 59 golfer, Adi tampil memukau dalam Turnamen Golf Kemerdekaan Piala Ketua Umum PWI Pusat II di Padang Golf Blackrock Belitung. Adi meraih piala Best Nett Over All.

Titik Balik

Petang itu, 17 November 2022, dokter Adi Sucipto, Sp.B selaku Ketua IDI Babel mempimpin sejumlah pimpinan organisasi profesi kesehatan Babel di lantai dua salah satu gedung di RSBT Timah, Pangkalpinang, menggelar konferensi pers bertajuk, “Menolak RUU Kesehatan/Omnibus Law Kesehatan”.

Adi petang itu bersemangat mengemukakan berbagai alas an mengapa RUU yang sudah masuk daftar Prolegnas 2023 itu harus ditolak. Ia menilai jika sampai disahkan maka akan merugikan paramedis dan masyarakat. Selengkapnya baca:https://ayobangka.com/dengarkan-kata-dokter/

Ia pun memimpin menyampaikan aspirasi ke DPRD Babel. Bahkan Adi bersama sejumlah pimpinan oragnisasi profesi kesehatan di Babel, terbang ke Jakarta bergabung dengan perwakilan se-Indonesia dan pusat melakukan penolakan ke DPR RI.

Rupanya, hal ini sangat berkesan bagi Adi. “Saya juga berdiskusi banyak dengan teman-teman di IDI pusat. Harus ada yang berjuang untuk kesehatan masyarakat di legislatif,” ujar Adi suatu waktu.

“Saya tetap dokter, tetap melayani masyarakat seperti biasanya. Kalau terpilih tugas melayani masyarakat tidak akan pernah ditinggalkan. Kami hanya ingin ada juga yang memperjuangkan aspek kebijakan terkait kesehatan di legislatif, harus ada yang bersuara,” sambungnya, Baca: https://ayobangka.com/dokter-adi-sucipto-blak-blakan-alasan-terjun-ke-dunia-politik/

Di DPRD Babel, Adi menjadi anggota Komisi IV yang membidangi kesehatan dan pendidikan. Meski kritis, namun Adi tetap santun menyampaikan masukan dan kritik terhadap dunia kesehatan di Babel agar diperbaiki secara serius.

Baru lewat satu tahun, sejak di lantik jadi Anggota DPRD Babel, kabar mengejutkan itu datang, pada Jumat, 14 November 2025, sekitar pukul 10.30 WIB, di Ruang ICU RS IHC Bakti Timah Pangkalpinang, pria ramah itu menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 63 tahun. Masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berduka.

Dodi Kusdian, menaikkan doa ke langit sembari terisak, saat melepas jenazah dalam peti yang akan diterbangka ke Jakarta, Jumat siang di Bandara Depati Amir Pangkapinang. Ketua Komisi II DPRD Babel itu, tak jeda terisak sembari membacakan doa hingga akhir. Sebelumnya, jenazah disalatkan di Masjid Al Furqon, Kompleks Perumahan Timah, Bukit Baru.

Selanjutnya, dari Bandara Soekarno Hatta, jenazah dr. Adi Sucipto, Sp.B diberangkatkan ke rumah duka di Jalan Sekelimus V, NOmor 24 Bandung dan malam itu juga dimakamkan di salah pemakaman Kecamatan Cikalong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dalam sejarah negeri ini, puluhan dokter berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Ada dr Soetomo, dr Moewardi, dr. Sardjito. dr Tjipto Mangoekoesomoe, dr. Wahidin Soedirohusodo dan puluhan lainnya.

Dr Adi Sucipto, Sp.B adalah satu dari banyak dokter pejuang negeri ini di era modern. Mereka berjuang menyembuhkan sakit masyarakat, juga sekaligus berjuang menyembuhkan penyakit sistem kesehatan negeri.

Betapun keras dan gigihnya perjuangan itu, maut jualah yang mengakhiri segala idialisme itu. Meski pun semangat, percikan pemikiran atau gagasan tentang pelayanan kesehatan yang adil dan layak bagi masyarakat akan terus hidup dalam api semangat yang harus terus dikobarkan.

Maut itulah yang menghempaskan segala sebagaimana dilukiskan penyair Hammid Jabbar dalam ‘Aroma Maut’:

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku? Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepastepat di saat tak jelas Batas-batas, sayangku: Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!

(Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana. Angin masih berhembus, topannya entah ke mana. Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana? Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?)

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?

Barangkali hilir-mudik di suatu titik tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku: Sampai tetes embun pun selesai, tak menitik!

(Gelombang lain datang begitu lain. Topan lain datang begitu lain. Gelap lain datang begitu lain. Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain!). (*)

Sahabatmu: Fakhruddin Halim

admin

Kembali ke atas