Banner Full Width

Di Osaka, Bertemu Saudara Dekat Pohon Gadis

Pada musim dingin ini, pohon tersebut tampaknya tidak merontokkan daunnya, berbeda dengan banyak spesies lain.

Oleh: Rendra Regen Rais

Hari pertama berada di Jepang, satu hal yang langsung menarik perhatian penulis adalah menjumpai pohon yang sangat mirip dengan kayu gadis (Cinnamomum Porrectum), sebagaimana disebutkan dalam sebuah jurnal yang mengulas spesies tersebut.

Pohon ini sangat akrab karena sering dijumpai ketika memasuki hutan di Bengkulu, khususnya hutan sekunder di beberapa wilayah dari Semidang Bukit Kabu sampai ke Ulu Manna, Bengkulu Selatan. Konon pohon ini endemik Bengkulu.

Di Bengkulu, kayu gadis umummnya tumbuh di belukar hutan sekunder dan tepi kebun. Sebagai seorang Polhut (Polisi Hutan), kehadiran spesies ini selalu menarik perhatian, ia menjadi penanda ekologi tertentu, sekaligus saksi dinamika hutan yang telah mengalami gangguan. Boleh dibilang pohon terakhir yang tersisa di antara banyak yang ditebang.

Di Osaka, pohon yang secara visual sangat serupa kayu gadis ini, justru banyak dijumpai sebagai pepohonan hijauan kota. Pada musim dingin ini, pohon tersebut tampaknya tidak merontokkan daunnya, berbeda dengan banyak spesies lain.

Setelah ditelusuri, pohon ini dikenal di Jepang sebagai kusunoki (Cinnamomum Camphora). Ternyata berkerabat dekat dengan kayu gadis, keluarga Medang-medangan.

Kusunoki dipilih secara luas sebagai pohon kota, antara lain karena kemampuannya yang sangat baik dalam menyerap karbon, selain bentuk tajuknya yang estetis dan karakternya yang kuat sebagai pohon peneduh. Ia bukan sekadar elemen lanskap, tetapi bagian dari perencanaan ekologi perkotaan.

Sebagai perbandingan, di Inggris, pohon estetis yang paling sering juga penulis jumpai adalah Oak, sejenis pohon dari kelompok Quercus, yang juga memiliki makna ekologis dan simbolik yang kuat dalam lanskap Eropa.

Penglihatan singkat ini: pohon yang sekerabat, bahkan mirip secara morfologi, dapat memiliki “nasib” yang sangat berbeda tergantung konteks sosial dan tata kelola ruang.

Di Osaka, Kusunoki dipelihara dan dimuliakan sebagai pohon kota yang istimewa. Di Bengkulu, kerabat dekatnya, kayu gadis, lebih sering dijumpai di pinggir kebun dan hutan sekunder, bahkan tak jarang ditebang untuk diambil kayunya.

Beda lokasi, memanglah beda nasib. (*)

admin

Kembali ke atas